Risalah Aqiqah Terlengkap dalam Islam

aqiqahcilacap.xyz – Kelahiran seorang anak adalah berkah dan karunia besar dari Allah SWT. Kehadirannya akan membuat bahagia seluruh anggota keluarga.

Dalam agama Islam, kelahiran seorang anak dirayakan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan aqiqah. Dalam artikel berikut, kami akan membahas mengenai risalah aqiqah secara lengkap.

Arti Kata Risalah

Sebelum membahas lebih jauh mengenai aqiqah, ada baiknya kita memahami terlebih dulu tentang arti kata “Risalah”, karena sebagian besar orang mungkin masih asing dengan kata ini.

Jadi, risalah adalah wacana formal yang membahas tentang fakta, bukti, dan kesimpulan tentang subjek tertentu, yang dalam penulisannya menggunakan prinsip dan metode tertentu secara teliti, sistematis dan hati-hati.

Risalah Aqiqah

Berikut adalah informasi lengkap mengenai Aqiqah dalam Islam:

  1. Pengertian Aqiqah

Aqiqah/akikah berasal dari kata ‘aq, yaitu bahasa Arab, yang berarti memotong. Sedangkan menurut sebuah terminologi Islam, Aqiqah didefinisikan sebagai tindakan mengorbankan seekor hewan untuk menandai kelahiran seorang anak.

Aqiqah diadakan oleh keluarga bayi (orang tua/wali) dan termasuk ritual tradisional untuk menyambut bayi baru ke dalam keluarga muslim.

  1. Hukum Aqiqah

Sebenarnya, banyak ulama Islam yang berbeda pendapat mengenai hukum aqiqah. Tapi, hukum aqiqah dalam pendapat terkuat dan berdasarkan hadis adalah sunnah muakkadah. Sunnah muakkadah berarti sunnah bagi yang kurang mampu (kecuali dinazarkan maka hukumnya berubah menjadi wajib) dan wajib bagi yang mampu.

Namun, ada juga ulama yang memberikan penjelasan jika aqiqah adalah penebus, yang berarti bahwa aqiqah adalah tanda pelepasan penghalang bagi anak-anak untuk memberikan syafaat kepada orang tua, sehingga aqiqah wajib dilakukan.

  1. Kapan Aqiqah Harus Dilakukan?

Aqiqah secara tradisional diadakan pada hari ke-7 setelah kelahiran anak, tapi juga dapat ditunda hingga beberapa waktu, misalnya setelah hari ke-14, ke-21, dan seterusnya.

Beberapa ulama Islam mengatakan bahwa Aqiqah dapat dilakukan sampai anak menjadi dewasa, namun harus sebelum menikah.

Tapi beberapa ulama lain memberikan fatwa bahwa Aqiqah berlaku sampai hari kematiannya.

  1. Apa Tujuan dari Aqiqah?

Aqiqah adalah cara bagi orang tua Muslim untuk mengumumkan kelahiran bayi dan menunjukkan rasa terima kasih kepada Allah atas berkah anak yang sehat.

Dalam Islam, aqiqah merupakan salah satu bentuk pendekatan diri kepada Sang Khaliq dan suatu bentuk iman.

Aqiqah juga merupakan cara untuk menunjukkan perasaan gembira dalam menjalankan hukum Islam dan menambah keturunan orang-orang beriman sehingga umat Rasulullah dapat dilipatgandakan hingga Hari Pembalasan.

Tujuan lain adalah mengundang anggota keluarga, tetangga, dan teman untuk tetap menjalin silaturahmi dan berbagi kebahagiaan.

  1. Hewan-Hewan Aqiqah

Hewan-hewan yang disembelih untuk aqiqah mirip dengan yang ada di qurbani.

Secara tradisional, kambing atau domba dapat dikorbankan untuk Aqiqah, tapi juga bisa diganti dengan sapi atau unta.

Sama seperti syarat hewan qurban untuk Idul Adha, hewan aqiqah harus dalam keadaan sehat dan bebas dari cacat, dan penyembelihan harus dilakukan secara manusiawi sesuai tata cara agama Islam.

Saat penyembelihan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti:

  • Hewan itu harus hidup pada saat disembelih.
  • Tidak boleh menggunakan kekerasan, misalnya memukul atau membunuh dengan cara mematahkan tulangnya.
  • Pisau yang digunakan untuk menyembelih haruslah tajam. Pisau yang tumpul akan menyakiti hewan dan jika ia mati karenanya, bisa jadi dagingnya haram untuk dimakan. Juga tidak boleh menggunakan mesin pemotong hewan.
  • Bagian yang boleh disembelih adalah saluran nafas (tenggorokan), saluran makanan (kerongkongan) dan dua vena jugularis.
  • Penyembelihan harus dilakukan dalam satu sayatan pisau.
  • Penyembelihan harus dilakukan oleh seorang muslim dewasa yang sehat mental. Hewan yang disembelih oleh non-muslim tidak akan halal.
  • Saat menyembelih harus mengucap Bismillah Allahu Akbar.
  • Menguliti atau memotong bagian mana pun dari hewan tidak diperbolehkan sebelum hewan benar-benar mati.

Adapun aturan mengenai daging hewan adalah sepertiga dari daging harus diberikan kepada orang miskin sebagai amal, dan sisanya disajikan untuk keluarga, teman, sanak saudara dan tetangga.

Tapi, orang tua atau wali bayi yang mengadakan aqiqah tidak boleh ikut memakannya. Hewan yang diqurbankan untuk aqiqah saat berusia tertentu, yaitu:

  • Domba berusia 6 bulan atau lebih
  • Kambing berusia 12 bulan atau lebih
  • Sapi berusia 3 tahun atau lebih
  • Unta berusia 6 tahun atau lebih

Sedangkan untuk jumlah hewan aqiqah, telah ditulis dalam sebuah hadits Nabi Muhammad (saw) yaitu:

“Dikisahkan oleh Umm Kurz: Nabi Allah (saw) berkata: Dua domba yang menyerupai satu sama lain harus dikorbankan untuk seorang anak laki-laki dan satu domba untuk seorang anak perempuan”.

  1. Tradisi Lainnya

Selain penyembelihan hewan dan doa untuk bayi, aqiqah juga merupakan waktu ketika rambut bayi dipotong atau dicukur untuk pertama kali.

Potongan rambut harus dikumpulkan dan kemudian ditimbang, dan beratnya akan dikonversi menjadi emas atau perak, yang kemudian diberikan sebagai sedekah kepada fakir miskin atau anak yatim.

Pada acara aqiqah zaman Nabi Muhammad, setelah memotong rambut bayi, acara dilanjutkan dengan memasukkan makanan manis ke mulut bayi. Para sahabat Nabi memiliki kebiasaan membawa bayi yang baru lahir ke hadapan Nabi.

Kemudian Nabi memerintahkan seseorang mengambil kurma dan mengunyahnya sampai halus lalu mengambil sedikit dari mulutnya dan memberikannya ke mulut bayi.

Ada 2 hal yang terkandung dalam hal ini, yaitu karbohidrat atau glukosa dari kurma merupakan sumber kekuatan fisik bagi bayi. Sedangkan air liur dari Nabi akan memberi berkah. Namun tradisi ini tidak lagi di lakukan di zaman sekarang.

Tradisi lain dari aqiqah yang masih dilakukan sampai saat ini adalah pemberian nama. Sehingga, aqiqah kadang-kadang disebut sebagai upacara penamaan, meskipun tidak ada prosedur resmi atau upacara khusus yang terlibat dalam proses penamaan.

  1. Ucapan Selamat

Mengucapkan selamat kepada orang tua yang mengadakan aqiqah, maka kamu menunjukkan rasa ikut berbahagia dengan kehadiran anggota baru dalam keluarga.

Tentu saja tindakan sederhana ini akan memberikan kesan yang manis dan mendalam bagi keluarga yang bersangkutan.

Untuk mengucapkan selamat, Kamu bisa mengatakan “Barakallahu laka fil mauhubi laka wasyakartal wahiba wabalagha asyaddahu waruziqat birrahu”,

yang dalam bahasa Indonesia berarti, “Semoga Allah melimpahkan berkah kepadamu lewat anak yang diberikan kepadamu. Dan semoga anak ini tumbuh dengan baik dan kamu dikaruniai kebaikannya.”

Dan orang tua bisa menjawab dengan “”Ajzalallahu tsawabaka” atau “Barakallahu laka wabaraka alaika”.

Yang artinya adalah “Semoga Kamu juga diberkati oleh Allah” atau “Semoga Allah memberi Kamu hadiah besar”.

Aqiqah adalah salah satu hal yang telah disarankan dalam agama Islam, meskipun hukumnya tidak disepakati sebagai wajib, tapi hal ini telah dilakukan sejak zaman Nabi. Dan setelah membaca risalah aqiqah ini, ada baiknya kamu melakukan aqiqah untuk menyambut kelahiran sang anak nanti.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*